Nama :
Iyusniar Nababan
25 July s/d 25 Agustus
LAPORAN BULANAN PRAKTEK LAPANGAN ( LIVE
IN)
DI
TOBASA
a.
Kelompok
Tani Marsada
Dari
Tanggapan sebagian Kelompok Marsada selama 1 Minggu di Desa Lbn.Ria-Ria Kec.
Lagoboti Kab.TOBASA saya mendapatkan, bahwa Kehadiran KSPPM cukup membantu
Kelompok Marsada dalam menjalankan program mereka di dalam kelompok tersebut
seperti membantu para masyarakat dalam pertanian yaitu pembuatan komsos,
keuangan dalam sistem simpan pinjam uang atau disebut CU (credit union) dan juga
memberikan pendidikan bagaimana mereka memahami apa yang harus menjadi hak-hak mereka
sebagai masyarakat melalui pendidikan yang diberikan oleh lembaga KSPPM.
Kelompok
Marsada ini berdiri pada Tahun 2008 hingga saat ini yang terdiri dari 34 orang, 5
di antaranya Laki-laki dan 29 Perempuan. Penghasilan dari Kelompok Marsada yang
saya lihat adalah hasil panen padi dan Coklat dan di dominasi marga Hutahean,
karena memang menjadi huta asal usul dari marga Hutahean. Selama 1 minggu saya
disana saya lebih mengamati aktivitas masyarakat di desa Lbn.Ria-ria, dimana lebih
banyak dihabiskan di rumah apalagi kaum Perempuan dan muda-mudi diluar dari jam
sekolah. Ibu-ibu yang saya jumpai yang pada saat itu kami sedang
berkumpul-kumpul tepat dirumah yang saya tinggali yaitu dirumah Op. Risda yang
menjadi Sekretaris di Kelompok Marsada dimana orang yang cukup aktif dalam
kegiatan Gereja yaitu Gereja Metodis Indonesia, baik menjenguk orang sakit dan
kegiatan gereja walaupun masih mempunyai tanggungan yaitu kedua cucunya yang
masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), setiap hari Namboru ini selalu dikunjungi
teman-temanya untuk menjaitkan baju, bercerita bersama juga dengan tujuan
lainya, jadi dari situasi itu bagiku memberikan peluang bagi saya lebih banyak
mengenal para ibu-ibu disana dan cerita bersama mereka.
Dari
cerita tersebut saya memberanikan diri untuk memperjelas apa yang saya lihat
selama beberapa hari di desa itu, yang saya tanyakan yaitu, apa yang mejadi
pokok penghasilan mereka di desa itu, dan mengapa lebih banyak menghabiskan
waktu di rumah seperti yang saya perhatikan, dan kalau pun kesawah hanya sebentar
saya lihat untuk mengantarkan serapan saja, dan di malam hari Laki-lakinya di
kede, dan hanya jarak beberapa rumah dari yang saya tempati tapi sudah 3 kede
yang saya jumpai di desa itu, jadi setiap siang hingga malam hari bapak-bapak
yang ada di desa itu dan dari dari luar desa tersebut hadir untuk berjudi dan main
tuak ditempat itu yang seolah-olah menikmati kemajuan disana, Mengapa…. ????
Tanggapan
ibu-ibu yang saya ajak cerita ternyata sebagian karena pengaruh dari kehadiran mesin
odong-odong. Mesin odong-odong ini adalah buatan jepang yang sudah masuk
kesetiap desa dan sering mengunjungi setiap desa disaat musim panen dan
menawarkan para petani yang ingin memanen hasil padi mereka untuk dikerjakan
mesin tersebut dengan waktu yang cukup singkat dari sistem sebelumnya, jadi
para petani tersebut tergiur melihat dan mendengar hasil kerja dari pada mesin itu
dan lebih menghandalkan mesin itu, dimana mulai dari pengambilan padi hingga
siap untuk di jemur dikerjakan oleh mesin tersebut, dan keuntungan menggunakan
mesin tersebut menurut mereka cukup membantu memperingan pekerjaan petani, dimana
tidak memakan banyak biaya, tenaga dan waktu mereka terlebih para PNS yang saya
jumpai disana yang tidak punya waktu banyak untuk mengurus hasil panen mereka.
Tanpa mempertimbangkan dampak dari kehadiran mesin itu yang membuat para petani
itu menjadi malas dan tidak mau berfikir panjang untuk hasil panen mereka
melainkan juga lebih mempercayakan hasil kerja mesin tersebut untuk memanen
padi mereka, yang awalnya menurut ibu-ibu yang saya jumpai di desa itu sebelum
kehadiran mesin tersebut masih terjaga kebersamaan untuk saling membantu dan
memberikan peluang bagi orang-orang yang tidak punya tanah untuk di pekerjakan
dan saling membantu, tapi saya tidak mendapatkan cerita itu lagi selama 1
minggu disana dan hanya bisa menyimpulkan bahwa pengaruh mesin teknologi
canggih tersebut membuat mereka lebih malas lagi untuk bekerja.
Pada
saat di desa itu, saya menghadiri sempat mengikuti diskusi yang diadakan di sopo
Porsea, untuk memulai diskusi tersebut dimulai dengan Ibadah, seperti
bernyanyi, berdoa, membaca nats dan buku renungan yang khusus diterbitkan oleh
Lembaga KSPPM untuk Ibadah tersebut. Ibadah yang dilaksanakan disana yang dapat
saya perhatikan ialah sebagai bentuk ucapan Syukur mereka dan sekaligus agar
diberkati selama diskusi diadakan, dan mendapatkan pencerahan untuk kembali
melaksankan kegiatan selanjutnya ketika kembali kerumah masing-masing melalui
refleksi yang dibacakan petugas. Dan selesai Ibadah diskusi pun dibuka setiap
Kelompok Tani yang ada di Serikat Tani Tobasa yang terdiri dari 15 Kelompok
yang hadir berhak mengemukakan pendapat dan menceritakan apa yang menjadi
masalah di dalam desa mereka salah satunya Desa Marsada yang saya ceritakan di
atas. Pak. Setia selaku Ketua di Kelompok Marsada yang melihat bahwa kehadiran
mesin Odong-odong tersebut mengkwatirkan bagi kelompok mereka dimana menurut
bapak tersebut, membuat orang-orang yang di desa mereka menjadi malas dan
menghabiskan waktu kebanyakan di rumah dan warung atau dikenal dengan petani
berdasi dan diatur oleh teknologi tersebut. Demikianlah masalah yang dapat saya
pahami dari kelompok tersebut, yang menganggap kurang diperhatikan juga dari
kalangan pemerintah dan gereja untuk melihat situasi tersebut menyangkut mesin
teknologi yang sudah mulai mempengaruhi masyarakat petani, dan masalah tersebut
menurut kelompok hanya mampu diperhitungkan oleh kelompok mereka masing-masing
untuk mencari solusi bersama, dan memang selama 3 kali mengikuti diskusi di
sopo porsea kelompok tani yang saya lihat selalu berusaha untuk memberikan
solusi dari setiap masalah yang mereka alami.
·
Tanggapan
Masyarakat Mengenai Penyuluh Pekerja Lapangan (PPL)
Pekerja Penyuluh Lapangan atau lebih akrap disebut PPL, ialah
kelompok dari pada gerakan pemerintah, yang digerakan untuk memantau dan ikut
serta di dalamnya melihat situasi perkembangan dari pada tanaman masyarakat
terkhusunya masyarakat yang ada di Desa Lbn. Ria-ria, yang jika terdapat
permasalahan tanaman mereka maka Dinas Pertanian ikut serta untuk memberikan
bantuan berupa asumsi dan materi menyangkut dengan persoalan yang dihadapi oleh
mereka. Hanya saja sejauh ini ternyata kehadiran PPL belum dirasakan oleh
masyarakat desa Lbn. Ria-ria menurut yang saya temui, dan menganggap nama
tersebut sebagai Penyuluh Pekerja Lapangan (PPL) yang diprogramkan pemerintah hanyalah
nama hiasan belaka dan formalitas yang digunakan sebagian Dinas Pertanian untuk
menguntungkan kalangan mereka sendiri yang tampa memperhitungkan masyaraka juga
menimbulkan kerugian bagi Masyarakat desa Lbn. Ria-ria karena kurang
diperdulikan dalam perkembangan tanaman petani yang ada di desa Lbn. Ria-Ria terkhususnya
sebagaimana yang dijanjikan oleh pemerintah dan faktanya pun ternyata PPL
tersebut belum pernah turun memantau masyarakat desa Lbn. Ria-ria apalagi
melihat tanaman-tanaman mereka ketika diserang HAMA, oleh karena itulah
masyarakat yang ada di desa itupun menurut saya sudah lebih menghandalkan kemajuan
yang mulai dihadirkan oleh pemerintah dari pada memberikan pendidikan untuk memandirikan
persoalan yang dirasakan oleh masyarakat tersebut.
·
Hasil Diskusi di Kantor Bupati
Selama satu minggu saya di Sopo Porsea
saya mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Staf KSPPM yang ada di
Porsea, salah satunya Audensi ke Kantor Bupati pada Tanggal 04 Juli 2016, tujuan kedatangan kami ke
kantor Bupati yaitu, untuk menyampaikan beberapa harapan dari pada masyarakat
mengenai pelancaran dari pada beberapa program yang di jalankan oleh serikat
tani TOBASA : Poin-Poin yang disampaikan yaitu :
1. Meminta
Pak Bupati agar mempertimbangkan kebutuhan KT TOBASA dengan memberikan bantuan
seperti alat mesin pembuatan KOMPOS
2. Mesin
Pemompa Air, untuk pertumbuhan tanaman KT ketika sulit di airi pada saat musim
kemarau
3. Mengundang
Pak Bupati untuk hadir pada acara Hari Tani Tobasa yang dilaksanakan pada tanggal 24 September 2016 di Desa Lbn.
Tonga-tonga
4. Pemberian
Bibit Jagung dan sekaligus testimasi di beberapa kebun KT. TOBASA salah satunya
di Desa Dolok Nagodang Kec. Uluan
Dan akhir dari pada pertemuan itupun
ditanggapi oleh Pak Bupati yaitu Ir. Darwin Siagian Selaku Bupati di Tobasa dan
menyambut dengan baik tujuan kami mendatangi beliau ke Kantor Dinas dan meminta
kembali untuk dapat membahas poin tersebut di hari yang akan datang setelah
akhir bulan juli, karena berhubungan dengan kesibukan beliau dan berjanji untuk
mengundang Kadis pertanian untuk turut hadir dalam pertemuan selanjutnya,
sekaligus ikut berpartisipasi untuk kesuksesan program tersebut.
·
Yang ikut serta dalam Audensi tersebut
ada 7 orang yaitu :
1.
Pdt. Nelson Siregar 5.
Perwakilan dari KT
2.
Junpiter Pakpahan 6. Lenny Rajagukguk
3.
Nando Samosir 7. Iyusniar Nababan
4. Rocky
Pasaribu
Saya senang dapat mengikuti Audensi
tersebut ke Kantor Bupati sehingga saya memahami bagaimana perwakilan dari
Serikat Tani menyampaikan apa yang menjadi kesulitan dan kebutuhan yang
diharapkan oleh masyarakat dan apa-apa saja yang menjadi kebuhan yang dapat
membantu kelancaran masyarakat di TOBASA terkhususnya Kelompok Tani tersebut.
Dari ke 4 poin yang disuarakan kepada Pak Darwin karena berangkat dari
kesulitan yang dirasakan Kelompok Tani, yaitu karena tanaman-tanaman masyarakat
kurang bagus dan ingin membuat kompos tapi mesin yang dimiliki kelompok
terbatas karena hanya memiliki satu mesin saja untuk semua Serikat Tani Tobasa,
sehingga kelompok tani mengharapkan bantuan mesin untuk pembuatan pupuk kompos
cair yang dikelola dari berbagai macam tanam-tanaman dan daun-daunan.
b. Kelompok Marsiurupan
Di kelompok Marsiurupan yang ada di Dolok
nagodang Kec. Uluan ini berbeda dengan kelompok marsada yang saya dapati dimana
di kelompok Marsada ini tidak ada dilakukan diskusi kelompok seperti kelompok
yang lain yang dibuat satu kali satu minggu dan tepat pada hari minggu, tujuan
dari pada diskusi kelompok ini yaitu membayar simpanan wajib (sw) dan simpanan
sukarela (ss) dan membicarakan apa yang ingin direncanakan kelompok kedepanya,
dan jika ada persoalan maka dipecahkan bersama. Kelompok marsiurupan ini
dibentuk pada tahun 2000 dan terdiri dari 17 orang 2 diantaranya laki-laki dan
15 perempuan yang menjadi ketua di kelompok ini yaitu Pak. Ruhut Sitorus dan
sebagai sekretaris Mak. Frengki Sihombing, di Desa Dolok Nagodang ini saya
lebih memperhatikan kesulitan anak sekolah untuk berangkat kesekolah, karena
desa tersebut jarang dimasuki angkutan umum oleh karena ini anak-anak yang ada
di desa itu dari umur 8 Tahun sudah diajarkan harus mahir bawa sepeda motor tampa
mempertimbangkan SIM (surat izin mengemudi) yang diajarkan oleh orang tua
mereka dengan tujuan supaya ketika berangkat bersokolah tidak perlu diantar
jempu lagi dan sudah bisa mandiri sendiri.
Melihat situasi itu awalnya saya berfikir
bagaimana dengan orang yang tidak memiliki materi yang cukup untuk membelikan
sepeda motor untuk anaknya yang bersekolah atau hanya mampu membelikan satu
sepeda motor sementara yang sekolah dalam keluarga itu lebih dari 2 orang. Yang
dapat saya simpulkan dari jawaban mereka termasuk anak-anak yang saya ajak
bicara ketika sedang membeli jajanan di warung Op. Risda Sitorus tempat saya
tinggal, bahwa solidaritas anak sekolah di desa itu yang saya perhatikan masih
tinggi, dimana saling mengantar jemput teman-temanya walaupun jauh dan tampa ikatan
kelurga sehingga saling menunggu ketika jam masuk sekolah merekapun berbeda dan
itu saya lihat mulai dari penidikan anak SD, SMP, hingga SMA, yang selalu
dinaiki 2 orang hingga 3 anak sekolah dalam 1 kendaraan. Situasi seperti itu
saya lihat berturut-turut selama 3 hari saya di desa tersebut, sekaligus ikut
membantu Op. Risda Br. Sitorus menjaga warung kelontongan, dan pengalaman itu
menurut saya sangat menyenangkan karena ikut berbaur dengan nenek-nenek
tetangga yang sering berkunjung kerumah tersebut dan sambil berbagi cerita.
c. Desa Lumban Sitorus
Selama 3 hari saya di Desa Lumban Sitorus
saya lebih banyak mengikuti kegiatan staf yaitu menangani pesoalan Sekdes yang
terpilih pada hari senin, 01 Agustus 2016 tapi kemenangan tersebut tidak sesuai
dengan peraturan yang dikeluarkan oleh PERBUB dan karena hasil dari pada campur
tangan pihak TPL hingga kami sempat berurusan kepada kepala camat yang ada di
Kantor Camat Parmaksian hingga sampai kepada DPRD dan juga saya sempat menggali
informasi tentang pengaruh TPL di Desa tersebut dan bagaimana mereka
memperjuangan tanah mereka seluas 34 H dari tangan TPL yang hingga sekarang
belum mendapatkan jawaban, dan informasi tersebut saya dapatkan langsung dari
Pak. Sammas Sitorus, yang cukup mengetahui persoalan TPL, dan didesa ini belum
ada pembentukan kelompok yang saya temui, tapi menjadi salah satu titik
persoalan yang ditangani oleh pihak lembaga KSPPM yang diskusinya dilaksanakan
1 kali satu minggu yaitu pada hari minggu, ditambah dengan diskusi dirumah-rumah.
·
Masalah
Toba Pulf Lestari (TPL)
Pada tanggal 08 Agustus Tahun 1984 TPL
mulai dibangun di daerah Tobasa dan mulai beroperasi pada Tahun 1986 dan telah
aktif hingga 30 Tahun terakhir hingga sampai sekarang. Berdirinya TPL ini telah
disetujui oleh pemerintah dan telah mendapat izin dari Pemerintah untuk
mendirikan TPL tersebut, salah satunya Dinas Lingkungan Hidup, oleh sebab
itulah Masyarakat yang komplen atas berdirinya TPL tersebut hingga sekarang
masih sulit untuk di tuntaskan sebab masyarakat
tidak hanya melawan PT.TPL melainkan juga Pemerintah terkhususnya. Masyarakat
Lumban Sitorus yang sempat berunjuk rasa untuk memperjuangkan Tanah Adat
warisan dari nenek monyang mereka yang diambil oleh TPL hingga 34 H yang
dijadikan oleh TPL sebagai tempat berdirinya perusahan tersebut, hal itu
jugalah yang hingga sekarang masih persoalan yang pelit yang belum membuahkan
hasil bagi Desa Lbn. Sitorus Kec. Parmaksian.
Sejak bulan 2 Tahun 2015 pada saat
moment perjuangan L. Sirotus pada saat itu, pihak KSPPM pun menanggapi
perjuangan itu dengan menawarkan masyarakat L.Sitorus untuk ikut bergabung
dengan KSPPM yang dilakukan dengan awal pertemuan di Sopo Parapat, dalam bentuk
diskusi Pada saat itu KSPPM pun mulai aktif dan turut serta dalam setiap persoalan
yang dirasakan oleh L. Sitorus hingga saat ini, yang disebut sebagai dampingan
KSPPM. Jawaban dari pada pihak TPL untuk
masyarakat L. Sitorus ialah bahwa tanah tersebut bukanlah tanah masyarakat dan
yang memberikan tanah tersebut juga bukan masyarakat melainkan Pemerintah,
sementara pada tahun 80 masyarakat Tobasa buta akan hak dan sulit untuk
menyampaikan persoalan mereka pada saat itu, oleh sebab itulah sehingga
masyarakat Tobasa sebagian kehilangan tanah mereka dan pihak TPL selalu
memberikan janji-janji kepada masyarakat dengan alasan supaya masyarakat tidak
angkat bicara lagi tentang TPL, janji tersebut yaitu bahwa pihak TPL akan
menampung masyarakat TOBASA sebagai pekerja di TPL yang tentunya mengurangi
yang penganguran dimana TPL menampung para pekerja sebanyak 800 orang, dan
bertanggung jawab bagi masyarakat yang sakit karena dampak dari pada TPL
tersebut akan diobati, juga dana aktif yang tiap tahun diberikan kepada
masyarakat TPL yang menjadi salah satu peraturan pemerintah ketika salah satu
PT dapat berdiri di salah satu daerah masyarakat dana tersebut harus diberikan,
namun ternyata janji tersebut tidak ditepati oleh pihak TPL itulah sebabnya mengapa masyarakat
mengulas kembali masalah tersebut pada tahun 2012 yaitu untuk menuntut janji TPL yang pada saat itu
sempat tertutup selama 4 Tahun yang disebut indorayon dan berubah nama menjadi
TPL.
Kehadiran dari TPL ini menurut masyarakat Lbn.
Sitorus selain merugikan juga menghadirkan berbagai penyakit seperti,
gatal-gatal, batuk dan filex yang menyerang anak-anak terkhususnya, penyakit
tersebut bersumber dari limbah pembuangan TPL. Ada 3 limbah yaitu:
1.
Limbah Cair, yaitu limbah hasil jadi
dari pada bubur kertas yang mencemari air di daerah Tobasa yang dikelolah
Perusahan tersebut dalam bentuk kertas coklat berukuran 1 M yang siap dikirim
kejakarta yang nantinya akan menjadi kertas putih, layaknya sebagai kertas
tempat menulis
2.
Limbah Gas yang kini dapat dibilang
bersahabat dengan masyarakat Tobasa, karena uap dari pada penglolahan PT
tersebut, yang dapat menimpulakan aroma tidak sedap dan membuat pusing.
3.
Limbah Padat, yaitu limbah tidak jadi
dari hasil pengelolaan kertas tersebut.
·
Asumsi Masyarakat L. Sitorus Tentang
Gereja
Lagi-lagi dengan hasil fikiran yang sama
dengan orang yang berbeda, saya selalu mendapatkan masukan dari pada suara
masyarakat mengenai peran gereja ditengah-tengah masyarakat yang kini tidak
berdampak positive lagi bagi masyarakat Tobasa terkhususnya, dan bahkan sudah
menjadi musuh Masyarakat, Mengapa…????, Karena memang ternyata gereja itu
sendiri sama sekali tidak mengetahui permasalahan jemaat-jemmatnya lagi, yang
seolah-olah tutup mata melihat keberadaan masyarakat, contohnya Masyarakat Lbn.
Sitorus, yang kini mengalami permasalah pelik, baik tentang TPL maupun ketidak
adilah yang didapatkan oleh masyarakat Lbn. Sitorus, Salah satu dari pada
pengurus gereja satu pun tidak ada yang mengetahui persoalan tersebut apalagi
ikut berpartisipasi di dalamnya, namun justru lembaga yang lebih
memprioritaskan masalah tersebut dibanding Gereja yang seharusnya sebagai
payung keyamanan masyarakat. Dan mengapa saya katakan musuh, karena memang
menanggapi pemikiran dari pada masyarakat Lbn. Sitorus, Gereja yang seharusnya
memihak ketika masyarakat berjuang untuk hak mereka, salah satunya menolak dana
CD dari TPL terkhusunya masyarakat Lbn. Sitorus yang berinisial SS yang menjadi
Ketua dalam desa tersebut yang berani menolak dana tersebut dengan tawaran
menjadi uang muka, dan akan memberikan dana setiap bulanya dengan harapan agar
tidak mengangkat lagi masalah-masalah TPL dan bahkan harus menelan hukum karena
kebenaran yang ditegakkan oleh SS tersebut, tapi Gereja itu sendiri justru
malah seolah-olah tidak mengapresiasiakan kebenaran tersebut dan bahkan tidak
ikut serta dalam kejadian tersebut, dan justru malah menerima uang suap seperti
Panatua-Panatua Panghobusan yang menerima uang suap tersebut dan juga menjadi
pekerja di TPL, termasuk ketika ada acara-acara besar Gereja TPL selalu turut
hadir menyumbang dengan dana yang tidak tanggung tanggung hingga membuat
pimpinan tertinggi di HKBP yaitu Op. Eporus W. Simarmata berani mengatakan
ucapana TERIMA KASIH KEPADA TPL yang berlangsung di salah satu acara yang
dilaksanakan di Tarutung, itu juga lah yang menjadi salah satu alasan Lbn.
Sitorus mengatakan bahwa HKBP sudah tidak perduli lagi dengan masalah yang
dihadapi masyarakat dan mematikan perjuangan masyarakat, sebab jika Gereja saja
sudah merasa tidak asing lagi dengan kehadiran TPL, bagaimana lagi masyarakat
bisa berjuang.
·
Tanggapan dampingan mengenai KSPPM
KSPPM telah membentuk beberapa Kelompok
Serikat Tani Tobasa yang menjadi Pendamping KSPPM tersebut, dan telah membekali
Pendamping tersebut menjadi Anggota Masyarakat Tangguh, dan dibekali pendidikan
dan keberanian untuk mengantisipasi sesuatu masalah dan bahkan memecahkan
masalah, dan KSPPM selalu hadir dibelakang untuk mendampingi masalah yang
dihadapi masyarakat tersebut. Salah satunya Masyarakat Lbn. Sitorus yang
memiliki beberapa masalah salah satunya tentang pemilihan SekDes. Dimana salah
satu dari pemdamping KSPPM telah mencalonkan diri sebagai perangkat Desa yaitu
Sekdes namunapa daya ketika salah satu berbuat curang maka kemenangan yang
seharusnya diraih oleh salah satu pendamping KSPPM tersebut gagal, kenapa saya
katakan gagal karena tidak memenuhi suatu Prosedur PERDA, PERMEN DAN PERBUP
yaitu yang dapat intinya tidak boleh
memiliki pekerjaan Ganda dan usia relative Produktif (muda) Max 42 Tahun
kebawah ketika dilantik, dan juga berpengalaman dibidang penyelenggaraan
pemerintahan desa.
Namun pada saat itu ketika Sekdes tersebut
dilantik oleh Kepdes pada tanggal 01 Agustus 2016, Sekdes tersebut masih
terbilang aktif sebagai tenaga pengajar SMP dibona pasogit sebagai Guru
Matematika, dan semakin diselidiki kedepanya kemenangan tersebut juga telah ada
campur tangan dari pada pihak TPL yang memberikan bantuan kepada masyarakat
untuk menjalankan CD yang dilaksanakan oleh Sekdes tersebut. OLeh sebab itulah
sebagian masyarakat Lbn.Sirorus dan sebagian anggota KSPPM ikut campun dalam
masalah ini, untuk melaporkan ke pihak Kecamatan Parmaksian untuk ditindak
lanjutin ke kantor DPRD, dan laporan tersebut pun telah membuahkan hasil dan
ditanggapi oleh Ketua dan pendamping lainya dengan Posotif yang diadakan rapat
di Balige Kantor DPRD pada tanggal 09 Agustus 2016 tepat pada pukul 14.00
dengan bukti telah mengeluarkan surat Nomor 35 Tahun 2016 Tentang cara
pengangkatan dan pemberhentian Perangkat Desa, oleh karena itu saudara yang
dimenangkan oleh KEPDES-pun Sah untuk diberhentikan dan diperkirakan akan
melakukan penjaringan kembali pada Tahun 2017 denganan mengganti semua
perangkat desa yang baru. Selama 3 hari saya di Desa Lbn. Sitorus, atas
kemenangan tersebut saya pun mendengar bahwa KSPPM mendapatkan nilai Plus dari
Sebagian Masyarakat Lbn. Sirorus. Hal itulah yang sering dilaksanakan oleh
Pihak KSPPM untuk memecahkankan masalah dan mendorong masyarakat dari belakang
untuk tetap maju maju dan maju, hingga menegakan kemenangan bersama, Masalah
demikianlah yang dapat saya amati selama saya mengikuti proses penyelesaian
dari kedua masalah tersebut.
d. Kelompok Tani Sugapa
Desa
Maju Sugapa kecamatan. Sigumpar menurut saya desa yang sangat berbeda dari
ketiga kelompok yang saya jalani baik dari segi aktivitas keseharian dan
suasana kehidupan disana dimana Desa Maju sugapa ini sudah tidak asing lagi
hidup bersama dengan binatang peliharaan mereka, baik anjing, babi dan ayam,
dan lembu yang satu bara dengan mereka (rumah batak), dan anak-anak sekolah
yang saya jumpai disana selalu bangun lebih awal dari orang tua mereka untuk masak
dan mengejar angkot mereka agar tidak terlambat berangkat kesekolah dan
sepulang sekolah mereka tidak main-main seperti anak biasanya tapi justru ke
kebun membantu orangtua dan tengah malam tiba mereka manfaatkan waktu mereka
untuk belajar bersama, demikianlah yang saya lihat kebiasaan anak sekolah
disana saya cukup mengapresiasi kebiasa baik tersebut yang menurut saya harus
dipertahankan.
Awalnya
ketika saya masuk kedesa itu saya berfikir bahwa anak-anak disana pasti
terbatas dalam menemukan potensi mereka karena waktu mereka terbatas untuk
belajar dan menghabiskan waktu mereka untuk membantu orangtua dalam mencari
nafkah, tapi ternyata tidak justru dari ketiga desa yang saya jalani di desa
sugapa ini lah saya menemukan anak-anak yang berpotensi salah satunya Gabriel
Marsel Barimbing salah satu siswa yang masih duduk di Sekolah Dasar yang sudah
berpengalaman ke india untuk belajar dalam pembuatan motif batik dan juga salah
satu undangan istimewa Presiden Bpk. Jokowi pada acara HUT-RI KE 71 di Istana
Merdeka, dan siswa lainya yang pintar dibidang tortor dan puisi dan setiap saya
berkunjung kerumah kelompok tidak heran bagiku melihat foto anak-anak mereka
yang memakai baju wisuda.
Di
Desa ini terbentuk kelompok Sugapa pada Tahun 1999 yang terdiri dari 24 orang 3
diantaranya laki-laki dan 21 perempuan, desa ini termasuk desa yang jauh dari
perkotaan porsea yang jika dibandingkan dengan desa jaman sekarang lebih mudah
dijumpai dan akses jalanya pun bagus, tapi berbeda ketika kami pergi ke sugapa
yang melewati jalan daki-dakian termasuk pada saat kami pergi ke desa maju sugapa
yang jalanya terbilang sangat rusak dan gereja pun hanya 1 yaitu HKBP Baribing
itupun masyarakat sugapa kurang merasakan pelayanan gereja tersebut sebab tidak
ada kegiatan yang dilaksanakan baik untuk lanjut usia dan Remaja dan saya tidak
mendapati lagi gereja yang lain disana, sehingga saya sedikit miris lihat
situasi disana ketika nenek-nenek yang lanjut usiapun harus jalan kaki terlebih
dari desa sosor ke desa maju untuk membeli kebutuhan sehari-hari termasuk pada
saat ke gereja dan maradat yang harus melewati ± 1 km untuk sampai kedesa
seberang yaitu desa maju, apalagi ketika saya tinggal dan pergi bersama dengan Op.
Sarma untuk mengikuti kegiatan gereja, kami harus terus-terusan isterahat
karena kelelahan, dan sekaligus menopang beliau dan bahkan sempat menawarkan
untuk saya gendong, hee. Beliau adalah salah seorang pejuang dari 10 orang yang
berjuang untuk mempertahankan tanah mereka, 4 diantaranya sudah meninggal dan 6
masih hidup tapi sudah lanjut usia dan keadaan terbaring.
·
Nama-nama Pejuang Tanah Adat di Sugapa
1. Op.
Sarma Br. Sibarani
2. Op.
Dame Br. Sibarani (+)
3. Op.
Jasa Br. Siagian
4. Op.
Putri Br. Siahaan
5. Op.
Ramses Br. Sitorus
6. Op.
Ayu Br. Siagian
7. Op.
Mahadi Br. Hutagalung
8. Op.
Luhut Br. Sitorus (+)
9. Op.
Ros Br. Majuntak (+)
10. Op.
Maju Br. Panjaitan (+)
Dari
cerita kelompok tani Sugapa yang saya dapati di desa Maju Sugapa ketika selesai
mengikuti diskusi kelompok, saya lebih terarah kepada perjuangan mereka dimana
pada tahun 90 an mereka itu mengalami berbagai macam pengalaman baik pahit
manisnya pengalaman mereka ketika memperjuangan tanah mereka seluas 52 H di
tanah parbarungan yang ditanami dengan sayur-sayuran, ubi dan jagung, dan di
kebun tersebut saya juga ikut serta ketika memanen hasil tanaman mereka,
sekaligus bercerita tentang kembalinya tanah tersebut kepada pemiliknya.
Dari
cerita tersebut saya mendapatkan bahwa mereka sudah terbiasa berhadapan
langsung dengan polisi baik pada saat mereka di usir ketika mendatangi kantor
Bupati untuk meminta penjelasan dari tanah mereka, dan juga ketika mereka dibawa
oleh polisi ke kantor polisi yang ada di
balige untuk dimintai keterangan, karena telah memberanikan diri mencabuti
pohon kaliptus yang ditanami oleh pihak TPL di tanah mereka. Pihak TPL dapat
menguasai tanah masyarakat yang ada diparbaungan itu karena melalui kepala desa
yang menjual tanah adat mereka tanpa sepengetahuan pemiliknya, sehingga pihak
TPL merasa berhak atas tanah itu dan dan keberatan ketika pohon yang ditanami
diabuti dan melaporkan kepihak yang berwajib. Dari cerita yang saya dapat bahwa
mereka sudah tidak asing lagi ketika didatangi polisi, dan merekapun selalu
siap menjawab panggilan polisi walaupun
harus membawa anak-anak mereka pada saat itu, karena menurut mereka ketika
beralasan untuk tidak menjawab panggilan tersebut bagi mereka itu menolak
peluang mereka untuk memperjuangangkan tanah mereka, perjuangan mereka pun
tidak hanya sebatas TOBASA tapi sampai ke kota Jakarta, mereka rela
meninggalkan anak dan suami mereka demi kembalinya tanah adat mereka dari tanah
TFL, menurutku mereka memang perempuan yang tangguh dan pantang mundur setelah
mendengar cerita mereka, terkhusunya Op. Mahadi yang senantiasa setia mengikuti
proses perjuangan mereka walaupun beliau tidak bisa naik motor dan hanya
bermodalkan keberanian dan jalan kaki dan walaupun selalu kecewa karena selalu
mendapatkan respon yang kurang baik dari pihak pemerintah, dan sementara suami
mereka tidak begitu mengambil alih dalam masalah ini dan hanya menganggap bahwa
perjuangan yang mereka rasakan hanyalah buang-buang waktu, tapi setelah perjuangan
mereka berbuah barulah suami dan laki-laki yang ada ditempat itu mengakui
kekuatan mereka. Jadi tidak heran ketika kita menjumpai desa maju sugapa, yang
dapat kita temui adalah cerita dari perempuan tangguh yang ada di desa tersebut
tuntas Op. Sarma pada saat kami cerita
bersama dimalam hari sekaligus menyanyikan lagu berjuangan mereka ketika itu. Dari
ketiga 4 Desa dan 3 kelompok yang saya jalani yaitu, KT. Marsada, KT.
Marsitolongan dan KT. Sugapa saya mendapatkan begitu banyak pengalaman yang
dijadikan sebuah pelajaran, baik dari segi kehidupan, perjuangan dan lebih
menghargai tanah warisan nenek monyang kita, dengan mempertahankan tanah
warisan tersebut, dan bagaimana membangun kelompok yang baik dan saling mencari
solusi bersama dan berjuang bersama-sama, dan semoga dengan kembalinya saya
ketempat itu lagi, saya lebih mampu lagi menganalisis persoalan yang dihapi
mereka dan bisa bersosialisa kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar