Minggu, 02 Oktober 2016

Laporan di Tobasa



Nama                          : Iyusniar Nababan
Wilayah Belajar           : TOBASA  
25 July s/d 25 Agustus                                    

LAPORAN BULANAN PRAKTEK LAPANGAN ( LIVE IN)
DI TOBASA

a.      Kelompok Tani Marsada
Dari Tanggapan sebagian Kelompok Marsada selama 1 Minggu di Desa Lbn.Ria-Ria Kec. Lagoboti Kab.TOBASA saya mendapatkan, bahwa Kehadiran KSPPM cukup membantu Kelompok Marsada dalam menjalankan program mereka di dalam kelompok tersebut seperti membantu para masyarakat dalam pertanian yaitu pembuatan komsos, keuangan dalam sistem simpan pinjam uang atau disebut CU (credit union) dan juga memberikan pendidikan bagaimana mereka memahami apa yang harus menjadi hak-hak mereka sebagai masyarakat melalui pendidikan yang diberikan oleh lembaga KSPPM.
Kelompok Marsada ini berdiri pada Tahun 2008  hingga saat ini yang terdiri dari 34 orang, 5 di antaranya Laki-laki dan 29 Perempuan. Penghasilan dari Kelompok Marsada yang saya lihat adalah hasil panen padi dan Coklat dan di dominasi marga Hutahean, karena memang menjadi huta asal usul dari marga Hutahean. Selama 1 minggu saya disana saya lebih mengamati aktivitas masyarakat di desa Lbn.Ria-ria, dimana lebih banyak dihabiskan di rumah apalagi kaum Perempuan dan muda-mudi diluar dari jam sekolah. Ibu-ibu yang saya jumpai yang pada saat itu kami sedang berkumpul-kumpul tepat dirumah yang saya tinggali yaitu dirumah Op. Risda yang menjadi Sekretaris di Kelompok Marsada dimana orang yang cukup aktif dalam kegiatan Gereja yaitu Gereja Metodis Indonesia, baik menjenguk orang sakit dan kegiatan gereja walaupun masih mempunyai tanggungan yaitu kedua cucunya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), setiap hari Namboru ini selalu dikunjungi teman-temanya untuk menjaitkan baju, bercerita bersama juga dengan tujuan lainya, jadi dari situasi itu bagiku memberikan peluang bagi saya lebih banyak mengenal para ibu-ibu disana dan cerita bersama mereka.
Dari cerita tersebut saya memberanikan diri untuk memperjelas apa yang saya lihat selama beberapa hari di desa itu, yang saya tanyakan yaitu, apa yang mejadi pokok penghasilan mereka di desa itu, dan mengapa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah seperti yang saya perhatikan, dan kalau pun kesawah hanya sebentar saya lihat untuk mengantarkan serapan saja, dan di malam hari Laki-lakinya di kede, dan hanya jarak beberapa rumah dari yang saya tempati tapi sudah 3 kede yang saya jumpai di desa itu, jadi setiap siang hingga malam hari bapak-bapak yang ada di desa itu dan dari dari luar desa tersebut hadir untuk berjudi dan main tuak ditempat itu yang seolah-olah menikmati kemajuan disana, Mengapa…. ????
Tanggapan ibu-ibu yang saya ajak cerita ternyata sebagian karena pengaruh dari kehadiran mesin odong-odong. Mesin odong-odong ini adalah buatan jepang yang sudah masuk kesetiap desa dan sering mengunjungi setiap desa disaat musim panen dan menawarkan para petani yang ingin memanen hasil padi mereka untuk dikerjakan mesin tersebut dengan waktu yang cukup singkat dari sistem sebelumnya, jadi para petani tersebut tergiur melihat dan mendengar hasil kerja dari pada mesin itu dan lebih menghandalkan mesin itu, dimana mulai dari pengambilan padi hingga siap untuk di jemur dikerjakan oleh mesin tersebut, dan keuntungan menggunakan mesin tersebut menurut mereka cukup membantu memperingan pekerjaan petani, dimana tidak memakan banyak biaya, tenaga dan waktu mereka terlebih para PNS yang saya jumpai disana yang tidak punya waktu banyak untuk mengurus hasil panen mereka. Tanpa mempertimbangkan dampak dari kehadiran mesin itu yang membuat para petani itu menjadi malas dan tidak mau berfikir panjang untuk hasil panen mereka melainkan juga lebih mempercayakan hasil kerja mesin tersebut untuk memanen padi mereka, yang awalnya menurut ibu-ibu yang saya jumpai di desa itu sebelum kehadiran mesin tersebut masih terjaga kebersamaan untuk saling membantu dan memberikan peluang bagi orang-orang yang tidak punya tanah untuk di pekerjakan dan saling membantu, tapi saya tidak mendapatkan cerita itu lagi selama 1 minggu disana dan hanya bisa menyimpulkan bahwa pengaruh mesin teknologi canggih tersebut membuat mereka lebih malas lagi untuk bekerja.
Pada saat di desa itu, saya menghadiri sempat mengikuti diskusi yang diadakan di sopo Porsea, untuk memulai diskusi tersebut dimulai dengan Ibadah, seperti bernyanyi, berdoa, membaca nats dan buku renungan yang khusus diterbitkan oleh Lembaga KSPPM untuk Ibadah tersebut. Ibadah yang dilaksanakan disana yang dapat saya perhatikan ialah sebagai bentuk ucapan Syukur mereka dan sekaligus agar diberkati selama diskusi diadakan, dan mendapatkan pencerahan untuk kembali melaksankan kegiatan selanjutnya ketika kembali kerumah masing-masing melalui refleksi yang dibacakan petugas. Dan selesai Ibadah diskusi pun dibuka setiap Kelompok Tani yang ada di Serikat Tani Tobasa yang terdiri dari 15 Kelompok yang hadir berhak mengemukakan pendapat dan menceritakan apa yang menjadi masalah di dalam desa mereka salah satunya Desa Marsada yang saya ceritakan di atas. Pak. Setia selaku Ketua di Kelompok Marsada yang melihat bahwa kehadiran mesin Odong-odong tersebut mengkwatirkan bagi kelompok mereka dimana menurut bapak tersebut, membuat orang-orang yang di desa mereka menjadi malas dan menghabiskan waktu kebanyakan di rumah dan warung atau dikenal dengan petani berdasi dan diatur oleh teknologi tersebut. Demikianlah masalah yang dapat saya pahami dari kelompok tersebut, yang menganggap kurang diperhatikan juga dari kalangan pemerintah dan gereja untuk melihat situasi tersebut menyangkut mesin teknologi yang sudah mulai mempengaruhi masyarakat petani, dan masalah tersebut menurut kelompok hanya mampu diperhitungkan oleh kelompok mereka masing-masing untuk mencari solusi bersama, dan memang selama 3 kali mengikuti diskusi di sopo porsea kelompok tani yang saya lihat selalu berusaha untuk memberikan solusi dari setiap masalah yang mereka alami.
·         Tanggapan Masyarakat Mengenai Penyuluh Pekerja Lapangan (PPL)
Pekerja Penyuluh Lapangan atau lebih akrap disebut PPL, ialah kelompok dari pada gerakan pemerintah, yang digerakan untuk memantau dan ikut serta di dalamnya melihat situasi perkembangan dari pada tanaman masyarakat terkhusunya masyarakat yang ada di Desa Lbn. Ria-ria, yang jika terdapat permasalahan tanaman mereka maka Dinas Pertanian ikut serta untuk memberikan bantuan berupa asumsi dan materi menyangkut dengan persoalan yang dihadapi oleh mereka. Hanya saja sejauh ini ternyata kehadiran PPL belum dirasakan oleh masyarakat desa Lbn. Ria-ria menurut yang saya temui, dan menganggap nama tersebut sebagai Penyuluh Pekerja Lapangan (PPL) yang diprogramkan pemerintah hanyalah nama hiasan belaka dan formalitas yang digunakan sebagian Dinas Pertanian untuk menguntungkan kalangan mereka sendiri yang tampa memperhitungkan masyaraka juga menimbulkan kerugian bagi Masyarakat desa Lbn. Ria-ria karena kurang diperdulikan dalam perkembangan tanaman petani yang ada di desa Lbn. Ria-Ria terkhususnya sebagaimana yang dijanjikan oleh pemerintah dan faktanya pun ternyata PPL tersebut belum pernah turun memantau masyarakat desa Lbn. Ria-ria apalagi melihat tanaman-tanaman mereka ketika diserang HAMA, oleh karena itulah masyarakat yang ada di desa itupun menurut saya sudah lebih menghandalkan kemajuan yang mulai dihadirkan oleh pemerintah dari pada memberikan pendidikan untuk memandirikan persoalan yang dirasakan oleh masyarakat tersebut.
·           Hasil Diskusi di Kantor Bupati
Selama satu minggu saya di Sopo Porsea saya mengikuti beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Staf KSPPM yang ada di Porsea, salah satunya Audensi ke Kantor Bupati pada Tanggal     04 Juli 2016, tujuan kedatangan kami ke kantor Bupati yaitu, untuk menyampaikan beberapa harapan dari pada masyarakat mengenai pelancaran dari pada beberapa program yang di jalankan oleh serikat tani TOBASA : Poin-Poin yang disampaikan yaitu :
1.      Meminta Pak Bupati agar mempertimbangkan kebutuhan KT TOBASA dengan memberikan bantuan seperti alat mesin pembuatan KOMPOS
2.      Mesin Pemompa Air, untuk pertumbuhan tanaman KT ketika sulit di airi pada saat musim kemarau
3.      Mengundang Pak Bupati untuk hadir pada acara Hari Tani Tobasa yang dilaksanakan  pada tanggal 24 September 2016 di Desa Lbn. Tonga-tonga
4.      Pemberian Bibit Jagung dan sekaligus testimasi di beberapa kebun KT. TOBASA salah satunya di Desa Dolok Nagodang Kec. Uluan
Dan akhir dari pada pertemuan itupun ditanggapi oleh Pak Bupati yaitu Ir. Darwin Siagian Selaku Bupati di Tobasa dan menyambut dengan baik tujuan kami mendatangi beliau ke Kantor Dinas dan meminta kembali untuk dapat membahas poin tersebut di hari yang akan datang setelah akhir bulan juli, karena berhubungan dengan kesibukan beliau dan berjanji untuk mengundang Kadis pertanian untuk turut hadir dalam pertemuan selanjutnya, sekaligus ikut berpartisipasi untuk kesuksesan program tersebut.
·         Yang ikut serta dalam Audensi tersebut ada 7 orang yaitu :

1.      Pdt. Nelson Siregar                                   5. Perwakilan dari KT 
2.      Junpiter Pakpahan                                     6. Lenny Rajagukguk
3.      Nando Samosir                                          7. Iyusniar Nababan
4.      Rocky Pasaribu
Saya senang dapat mengikuti Audensi tersebut ke Kantor Bupati sehingga saya memahami bagaimana perwakilan dari Serikat Tani menyampaikan apa yang menjadi kesulitan dan kebutuhan yang diharapkan oleh masyarakat dan apa-apa saja yang menjadi kebuhan yang dapat membantu kelancaran masyarakat di TOBASA terkhususnya Kelompok Tani tersebut. Dari ke 4 poin yang disuarakan kepada Pak Darwin karena berangkat dari kesulitan yang dirasakan Kelompok Tani, yaitu karena tanaman-tanaman masyarakat kurang bagus dan ingin membuat kompos tapi mesin yang dimiliki kelompok terbatas karena hanya memiliki satu mesin saja untuk semua Serikat Tani Tobasa, sehingga kelompok tani mengharapkan bantuan mesin untuk pembuatan pupuk kompos cair yang dikelola dari berbagai macam tanam-tanaman dan daun-daunan.
b.      Kelompok Marsiurupan
     Di kelompok Marsiurupan yang ada di Dolok nagodang Kec. Uluan ini berbeda dengan kelompok marsada yang saya dapati dimana di kelompok Marsada ini tidak ada dilakukan diskusi kelompok seperti kelompok yang lain yang dibuat satu kali satu minggu dan tepat pada hari minggu, tujuan dari pada diskusi kelompok ini yaitu membayar simpanan wajib (sw) dan simpanan sukarela (ss) dan membicarakan apa yang ingin direncanakan kelompok kedepanya, dan jika ada persoalan maka dipecahkan bersama. Kelompok marsiurupan ini dibentuk pada tahun 2000 dan terdiri dari 17 orang 2 diantaranya laki-laki dan 15 perempuan yang menjadi ketua di kelompok ini yaitu Pak. Ruhut Sitorus dan sebagai sekretaris Mak. Frengki Sihombing, di Desa Dolok Nagodang ini saya lebih memperhatikan kesulitan anak sekolah untuk berangkat kesekolah, karena desa tersebut jarang dimasuki angkutan umum oleh karena ini anak-anak yang ada di desa itu dari umur 8 Tahun sudah diajarkan harus mahir bawa sepeda motor tampa mempertimbangkan SIM (surat izin mengemudi) yang diajarkan oleh orang tua mereka dengan tujuan supaya ketika berangkat bersokolah tidak perlu diantar jempu lagi dan sudah bisa mandiri sendiri.
     Melihat situasi itu awalnya saya berfikir bagaimana dengan orang yang tidak memiliki materi yang cukup untuk membelikan sepeda motor untuk anaknya yang bersekolah atau hanya mampu membelikan satu sepeda motor sementara yang sekolah dalam keluarga itu lebih dari 2 orang. Yang dapat saya simpulkan dari jawaban mereka termasuk anak-anak yang saya ajak bicara ketika sedang membeli jajanan di warung Op. Risda Sitorus tempat saya tinggal, bahwa solidaritas anak sekolah di desa itu yang saya perhatikan masih tinggi, dimana saling mengantar jemput teman-temanya walaupun jauh dan tampa ikatan kelurga sehingga saling menunggu ketika jam masuk sekolah merekapun berbeda dan itu saya lihat mulai dari penidikan anak SD, SMP, hingga SMA, yang selalu dinaiki 2 orang hingga 3 anak sekolah dalam 1 kendaraan. Situasi seperti itu saya lihat berturut-turut selama 3 hari saya di desa tersebut, sekaligus ikut membantu Op. Risda Br. Sitorus menjaga warung kelontongan, dan pengalaman itu menurut saya sangat menyenangkan karena ikut berbaur dengan nenek-nenek tetangga yang sering berkunjung kerumah tersebut dan sambil berbagi cerita.
c.       Desa Lumban Sitorus
     Selama 3 hari saya di Desa Lumban Sitorus saya lebih banyak mengikuti kegiatan staf yaitu menangani pesoalan Sekdes yang terpilih pada hari senin, 01 Agustus 2016 tapi kemenangan tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh PERBUB dan karena hasil dari pada campur tangan pihak TPL hingga kami sempat berurusan kepada kepala camat yang ada di Kantor Camat Parmaksian hingga sampai kepada DPRD dan juga saya sempat menggali informasi tentang pengaruh TPL di Desa tersebut dan bagaimana mereka memperjuangan tanah mereka seluas 34 H dari tangan TPL yang hingga sekarang belum mendapatkan jawaban, dan informasi tersebut saya dapatkan langsung dari Pak. Sammas Sitorus, yang cukup mengetahui persoalan TPL, dan didesa ini belum ada pembentukan kelompok yang saya temui, tapi menjadi salah satu titik persoalan yang ditangani oleh pihak lembaga KSPPM yang diskusinya dilaksanakan 1 kali satu minggu yaitu pada hari minggu, ditambah dengan diskusi dirumah-rumah.
·         Masalah Toba Pulf Lestari (TPL)
Pada tanggal 08 Agustus Tahun 1984 TPL mulai dibangun di daerah Tobasa dan mulai beroperasi pada Tahun 1986 dan telah aktif hingga 30 Tahun terakhir hingga sampai sekarang. Berdirinya TPL ini telah disetujui oleh pemerintah dan telah mendapat izin dari Pemerintah untuk mendirikan TPL tersebut, salah satunya Dinas Lingkungan Hidup, oleh sebab itulah Masyarakat yang komplen atas berdirinya TPL tersebut hingga sekarang masih sulit untuk di  tuntaskan sebab masyarakat tidak hanya melawan PT.TPL melainkan juga Pemerintah terkhususnya. Masyarakat Lumban Sitorus yang sempat berunjuk rasa untuk memperjuangkan Tanah Adat warisan dari nenek monyang mereka yang diambil oleh TPL hingga 34 H yang dijadikan oleh TPL sebagai tempat berdirinya perusahan tersebut, hal itu jugalah yang hingga sekarang masih persoalan yang pelit yang belum membuahkan hasil bagi Desa Lbn. Sitorus Kec. Parmaksian.
Sejak bulan 2 Tahun 2015 pada saat moment perjuangan L. Sirotus pada saat itu, pihak KSPPM pun menanggapi perjuangan itu dengan menawarkan masyarakat L.Sitorus untuk ikut bergabung dengan KSPPM yang dilakukan dengan awal pertemuan di Sopo Parapat, dalam bentuk diskusi Pada saat itu KSPPM pun mulai aktif dan turut serta dalam setiap persoalan yang dirasakan oleh L. Sitorus hingga saat ini, yang disebut sebagai dampingan KSPPM.  Jawaban dari pada pihak TPL untuk masyarakat L. Sitorus ialah bahwa tanah tersebut bukanlah tanah masyarakat dan yang memberikan tanah tersebut juga bukan masyarakat melainkan Pemerintah, sementara pada tahun 80 masyarakat Tobasa buta akan hak dan sulit untuk menyampaikan persoalan mereka pada saat itu, oleh sebab itulah sehingga masyarakat Tobasa sebagian kehilangan tanah mereka dan pihak TPL selalu memberikan janji-janji kepada masyarakat dengan alasan supaya masyarakat tidak angkat bicara lagi tentang TPL, janji tersebut yaitu bahwa pihak TPL akan menampung masyarakat TOBASA sebagai pekerja di TPL yang tentunya mengurangi yang penganguran dimana TPL menampung para pekerja sebanyak 800 orang, dan bertanggung jawab bagi masyarakat yang sakit karena dampak dari pada TPL tersebut akan diobati, juga dana aktif yang tiap tahun diberikan kepada masyarakat TPL yang menjadi salah satu peraturan pemerintah ketika salah satu PT dapat berdiri di salah satu daerah masyarakat dana tersebut harus diberikan, namun ternyata janji tersebut tidak ditepati oleh pihak  TPL itulah sebabnya mengapa masyarakat mengulas kembali masalah tersebut pada tahun 2012 yaitu  untuk menuntut janji TPL yang pada saat itu sempat tertutup selama 4 Tahun yang disebut indorayon dan berubah nama menjadi TPL.
 Kehadiran dari TPL ini menurut masyarakat Lbn. Sitorus selain merugikan juga menghadirkan berbagai penyakit seperti, gatal-gatal, batuk dan filex yang menyerang anak-anak terkhususnya, penyakit tersebut bersumber dari limbah pembuangan TPL. Ada 3 limbah yaitu:
1.      Limbah Cair, yaitu limbah hasil jadi dari pada bubur kertas yang mencemari air di daerah Tobasa yang dikelolah Perusahan tersebut dalam bentuk kertas coklat berukuran 1 M yang siap dikirim kejakarta yang nantinya akan menjadi kertas putih, layaknya sebagai kertas tempat menulis
2.      Limbah Gas yang kini dapat dibilang bersahabat dengan masyarakat Tobasa, karena uap dari pada penglolahan PT tersebut, yang dapat menimpulakan aroma tidak sedap dan membuat pusing.
3.      Limbah Padat, yaitu limbah tidak jadi dari hasil pengelolaan kertas tersebut.

·           Asumsi Masyarakat L. Sitorus Tentang Gereja
     Lagi-lagi dengan hasil fikiran yang sama dengan orang yang berbeda, saya selalu mendapatkan masukan dari pada suara masyarakat mengenai peran gereja ditengah-tengah masyarakat yang kini tidak berdampak positive lagi bagi masyarakat Tobasa terkhususnya, dan bahkan sudah menjadi musuh Masyarakat, Mengapa…????, Karena memang ternyata gereja itu sendiri sama sekali tidak mengetahui permasalahan jemaat-jemmatnya lagi, yang seolah-olah tutup mata melihat keberadaan masyarakat, contohnya Masyarakat Lbn. Sitorus, yang kini mengalami permasalah pelik, baik tentang TPL maupun ketidak adilah yang didapatkan oleh masyarakat Lbn. Sitorus, Salah satu dari pada pengurus gereja satu pun tidak ada yang mengetahui persoalan tersebut apalagi ikut berpartisipasi di dalamnya, namun justru lembaga yang lebih memprioritaskan masalah tersebut dibanding Gereja yang seharusnya sebagai payung keyamanan masyarakat. Dan mengapa saya katakan musuh, karena memang menanggapi pemikiran dari pada masyarakat Lbn. Sitorus, Gereja yang seharusnya memihak ketika masyarakat berjuang untuk hak mereka, salah satunya menolak dana CD dari TPL terkhusunya masyarakat Lbn. Sitorus yang berinisial SS yang menjadi Ketua dalam desa tersebut yang berani menolak dana tersebut dengan tawaran menjadi uang muka, dan akan memberikan dana setiap bulanya dengan harapan agar tidak mengangkat lagi masalah-masalah TPL dan bahkan harus menelan hukum karena kebenaran yang ditegakkan oleh SS tersebut, tapi Gereja itu sendiri justru malah seolah-olah tidak mengapresiasiakan kebenaran tersebut dan bahkan tidak ikut serta dalam kejadian tersebut, dan justru malah menerima uang suap seperti Panatua-Panatua Panghobusan yang menerima uang suap tersebut dan juga menjadi pekerja di TPL, termasuk ketika ada acara-acara besar Gereja TPL selalu turut hadir menyumbang dengan dana yang tidak tanggung tanggung hingga membuat pimpinan tertinggi di HKBP yaitu Op. Eporus W. Simarmata berani mengatakan ucapana TERIMA KASIH KEPADA TPL yang berlangsung di salah satu acara yang dilaksanakan di Tarutung, itu juga lah yang menjadi salah satu alasan Lbn. Sitorus mengatakan bahwa HKBP sudah tidak perduli lagi dengan masalah yang dihadapi masyarakat dan mematikan perjuangan masyarakat, sebab jika Gereja saja sudah merasa tidak asing lagi dengan kehadiran TPL, bagaimana lagi masyarakat bisa berjuang.
·           Tanggapan dampingan mengenai KSPPM
     KSPPM telah membentuk beberapa Kelompok Serikat Tani Tobasa yang menjadi Pendamping KSPPM tersebut, dan telah membekali Pendamping tersebut menjadi Anggota Masyarakat Tangguh, dan dibekali pendidikan dan keberanian untuk mengantisipasi sesuatu masalah dan bahkan memecahkan masalah, dan KSPPM selalu hadir dibelakang untuk mendampingi masalah yang dihadapi masyarakat tersebut. Salah satunya Masyarakat Lbn. Sitorus yang memiliki beberapa masalah salah satunya tentang pemilihan SekDes. Dimana salah satu dari pemdamping KSPPM telah mencalonkan diri sebagai perangkat Desa yaitu Sekdes namunapa daya ketika salah satu berbuat curang maka kemenangan yang seharusnya diraih oleh salah satu pendamping KSPPM tersebut gagal, kenapa saya katakan gagal karena tidak memenuhi suatu Prosedur PERDA, PERMEN DAN PERBUP yaitu  yang dapat intinya tidak boleh memiliki pekerjaan Ganda dan usia relative Produktif (muda) Max 42 Tahun kebawah ketika dilantik, dan juga berpengalaman dibidang penyelenggaraan pemerintahan desa.
     Namun pada saat itu ketika Sekdes tersebut dilantik oleh Kepdes pada tanggal 01 Agustus 2016, Sekdes tersebut masih terbilang aktif sebagai tenaga pengajar SMP dibona pasogit sebagai Guru Matematika, dan semakin diselidiki kedepanya kemenangan tersebut juga telah ada campur tangan dari pada pihak TPL yang memberikan bantuan kepada masyarakat untuk menjalankan CD yang dilaksanakan oleh Sekdes tersebut. OLeh sebab itulah sebagian masyarakat Lbn.Sirorus dan sebagian anggota KSPPM ikut campun dalam masalah ini, untuk melaporkan ke pihak Kecamatan Parmaksian untuk ditindak lanjutin ke kantor DPRD, dan laporan tersebut pun telah membuahkan hasil dan ditanggapi oleh Ketua dan pendamping lainya dengan Posotif yang diadakan rapat di Balige Kantor DPRD pada tanggal 09 Agustus 2016 tepat pada pukul 14.00 dengan bukti telah mengeluarkan surat Nomor 35 Tahun 2016 Tentang cara pengangkatan dan pemberhentian Perangkat Desa, oleh karena itu saudara yang dimenangkan oleh KEPDES-pun Sah untuk diberhentikan dan diperkirakan akan melakukan penjaringan kembali pada Tahun 2017 denganan mengganti semua perangkat desa yang baru. Selama 3 hari saya di Desa Lbn. Sitorus, atas kemenangan tersebut saya pun mendengar bahwa KSPPM mendapatkan nilai Plus dari Sebagian Masyarakat Lbn. Sirorus. Hal itulah yang sering dilaksanakan oleh Pihak KSPPM untuk memecahkankan masalah dan mendorong masyarakat dari belakang untuk tetap maju maju dan maju, hingga menegakan kemenangan bersama, Masalah demikianlah yang dapat saya amati selama saya mengikuti proses penyelesaian dari kedua masalah tersebut.
d.      Kelompok Tani Sugapa        
Desa Maju Sugapa kecamatan. Sigumpar menurut saya desa yang sangat berbeda dari ketiga kelompok yang saya jalani baik dari segi aktivitas keseharian dan suasana kehidupan disana dimana Desa Maju sugapa ini sudah tidak asing lagi hidup bersama dengan binatang peliharaan mereka, baik anjing, babi dan ayam, dan lembu yang satu bara dengan mereka (rumah batak), dan anak-anak sekolah yang saya jumpai disana selalu bangun lebih awal dari orang tua mereka untuk masak dan mengejar angkot mereka agar tidak terlambat berangkat kesekolah dan sepulang sekolah mereka tidak main-main seperti anak biasanya tapi justru ke kebun membantu orangtua dan tengah malam tiba mereka manfaatkan waktu mereka untuk belajar bersama, demikianlah yang saya lihat kebiasaan anak sekolah disana saya cukup mengapresiasi kebiasa baik tersebut yang menurut saya harus dipertahankan.
Awalnya ketika saya masuk kedesa itu saya berfikir bahwa anak-anak disana pasti terbatas dalam menemukan potensi mereka karena waktu mereka terbatas untuk belajar dan menghabiskan waktu mereka untuk membantu orangtua dalam mencari nafkah, tapi ternyata tidak justru dari ketiga desa yang saya jalani di desa sugapa ini lah saya menemukan anak-anak yang berpotensi salah satunya Gabriel Marsel Barimbing salah satu siswa yang masih duduk di Sekolah Dasar yang sudah berpengalaman ke india untuk belajar dalam pembuatan motif batik dan juga salah satu undangan istimewa Presiden Bpk. Jokowi pada acara HUT-RI KE 71 di Istana Merdeka, dan siswa lainya yang pintar dibidang tortor dan puisi dan setiap saya berkunjung kerumah kelompok tidak heran bagiku melihat foto anak-anak mereka yang memakai baju wisuda.
Di Desa ini terbentuk kelompok Sugapa pada Tahun 1999 yang terdiri dari 24 orang 3 diantaranya laki-laki dan 21 perempuan, desa ini termasuk desa yang jauh dari perkotaan porsea yang jika dibandingkan dengan desa jaman sekarang lebih mudah dijumpai dan akses jalanya pun bagus, tapi berbeda ketika kami pergi ke sugapa yang melewati jalan daki-dakian termasuk pada saat kami pergi ke desa maju sugapa yang jalanya terbilang sangat rusak dan gereja pun hanya 1 yaitu HKBP Baribing itupun masyarakat sugapa kurang merasakan pelayanan gereja tersebut sebab tidak ada kegiatan yang dilaksanakan baik untuk lanjut usia dan Remaja dan saya tidak mendapati lagi gereja yang lain disana, sehingga saya sedikit miris lihat situasi disana ketika nenek-nenek yang lanjut usiapun harus jalan kaki terlebih dari desa sosor ke desa maju untuk membeli kebutuhan sehari-hari termasuk pada saat ke gereja dan maradat yang harus melewati ± 1 km untuk sampai kedesa seberang yaitu desa maju, apalagi ketika saya tinggal dan pergi bersama dengan Op. Sarma untuk mengikuti kegiatan gereja, kami harus terus-terusan isterahat karena kelelahan, dan sekaligus menopang beliau dan bahkan sempat menawarkan untuk saya gendong, hee. Beliau adalah salah seorang pejuang dari 10 orang yang berjuang untuk mempertahankan tanah mereka, 4 diantaranya sudah meninggal dan 6 masih hidup tapi sudah lanjut usia dan keadaan terbaring.
·         Nama-nama Pejuang Tanah Adat di Sugapa
1.      Op. Sarma Br. Sibarani
2.      Op. Dame Br. Sibarani (+)
3.      Op. Jasa Br. Siagian
4.      Op. Putri Br. Siahaan
5.      Op. Ramses Br. Sitorus
6.      Op. Ayu Br. Siagian
7.      Op. Mahadi Br. Hutagalung
8.      Op. Luhut Br. Sitorus (+)
9.      Op. Ros Br. Majuntak (+)
10.  Op. Maju Br. Panjaitan (+)
Dari cerita kelompok tani Sugapa yang saya dapati di desa Maju Sugapa ketika selesai mengikuti diskusi kelompok, saya lebih terarah kepada perjuangan mereka dimana pada tahun 90 an mereka itu mengalami berbagai macam pengalaman baik pahit manisnya pengalaman mereka ketika memperjuangan tanah mereka seluas 52 H di tanah parbarungan yang ditanami dengan sayur-sayuran, ubi dan jagung, dan di kebun tersebut saya juga ikut serta ketika memanen hasil tanaman mereka, sekaligus bercerita tentang kembalinya tanah tersebut kepada pemiliknya.
Dari cerita tersebut saya mendapatkan bahwa mereka sudah terbiasa berhadapan langsung dengan polisi baik pada saat mereka di usir ketika mendatangi kantor Bupati untuk meminta penjelasan dari tanah mereka, dan juga ketika mereka dibawa oleh polisi ke kantor polisi  yang ada di balige untuk dimintai keterangan, karena telah memberanikan diri mencabuti pohon kaliptus yang ditanami oleh pihak TPL di tanah mereka. Pihak TPL dapat menguasai tanah masyarakat yang ada diparbaungan itu karena melalui kepala desa yang menjual tanah adat mereka tanpa sepengetahuan pemiliknya, sehingga pihak TPL merasa berhak atas tanah itu dan dan keberatan ketika pohon yang ditanami diabuti dan melaporkan kepihak yang berwajib. Dari cerita yang saya dapat bahwa mereka sudah tidak asing lagi ketika didatangi polisi, dan merekapun selalu siap menjawab panggilan  polisi walaupun harus membawa anak-anak mereka pada saat itu, karena menurut mereka ketika beralasan untuk tidak menjawab panggilan tersebut bagi mereka itu menolak peluang mereka untuk memperjuangangkan tanah mereka, perjuangan mereka pun tidak hanya sebatas TOBASA tapi sampai ke kota Jakarta, mereka rela meninggalkan anak dan suami mereka demi kembalinya tanah adat mereka dari tanah TFL, menurutku mereka memang perempuan yang tangguh dan pantang mundur setelah mendengar cerita mereka, terkhusunya Op. Mahadi yang senantiasa setia mengikuti proses perjuangan mereka walaupun beliau tidak bisa naik motor dan hanya bermodalkan keberanian dan jalan kaki dan walaupun selalu kecewa karena selalu mendapatkan respon yang kurang baik dari pihak pemerintah, dan sementara suami mereka tidak begitu mengambil alih dalam masalah ini dan hanya menganggap bahwa perjuangan yang mereka rasakan hanyalah buang-buang waktu, tapi setelah perjuangan mereka berbuah barulah suami dan laki-laki yang ada ditempat itu mengakui kekuatan mereka. Jadi tidak heran ketika kita menjumpai desa maju sugapa, yang dapat kita temui adalah cerita dari perempuan tangguh yang ada di desa tersebut tuntas  Op. Sarma pada saat kami cerita bersama dimalam hari sekaligus menyanyikan lagu berjuangan mereka ketika itu. Dari ketiga 4 Desa dan 3 kelompok yang saya jalani yaitu, KT. Marsada, KT. Marsitolongan dan KT. Sugapa saya mendapatkan begitu banyak pengalaman yang dijadikan sebuah pelajaran, baik dari segi kehidupan, perjuangan dan lebih menghargai tanah warisan nenek monyang kita, dengan mempertahankan tanah warisan tersebut, dan bagaimana membangun kelompok yang baik dan saling mencari solusi bersama dan berjuang bersama-sama, dan semoga dengan kembalinya saya ketempat itu lagi, saya lebih mampu lagi menganalisis persoalan yang dihapi mereka dan bisa bersosialisa kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar